ARGUMEN TEOLOGIS ADAT GORONTALO: Kritik atas Kritik Tradisi Molondhalo


Kamis, 01 Februari 2018

Ahmad Fahmi

Publikasi LP2M

Dibaca: 246 kali

ARGUMEN TEOLOGIS ADAT GORONTALO:

Kritik atas Kritik Tradisi Molondhalo

Gorontalo dikenal sebagai daerah adat. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakatnya memiliki nilai-nilai adat yang sangat dihormati oleh suku Gorontalo. Bagi masyarakat Gorontalo, adat istiadat adalah norma-norma yang oleh individu yang menganutnya dijunjung tinggi dalam kehidupan. Adat juga menanamkan kepercayaan yang teguh akan kekuatan Allah swt. menciptakan manusia dengan penuh kesempurnaan. Adat menciptakann manusia dalam hidup dan kehidupannya selalu menunjukkan pada sikap dan sifat yang baik, positif serta dilandasi dengan akhlaqul karimah. Dengan demikian, fungsi adat bagi masyarakat Gorontalo adalah sebagai sarana untuk menuntun dan mengarahkan setiap orang baik sebagai seorang pemimpin, sebagai aparatur, sebagai anggota masyarakat, sebagai pengusaha, sebagai politikus, sebagai ulama’ dan lain sebagainya, dalam perilaku sehari-hari sehingga setiap kegiatan mempunyai makna dan berhasil ke arah yang lebih baik.

Secara historis, adat Gorontalo lahir dan terbentuk melalui proses islamisasi Gorontalo yang panjang. Proses tersebut bersifat historis, dialogis-dinamis, karena sebelum Islam menjadi agama resmi, telah hidup adat dan tradisi di tengah masyarakat Gorontalo. Proses akomodatif pertama pada masa Raja Amai melahirkan rumusan ”syaraa topa-topango adati”, yang berarti ”syarak bertumpu pada adat”. Rumusan falsafah adat awal ini menunjukkan dominasi adat atas syarak. Proses otoritatif syarak kedua terjadi pada era Raja Matolodula Kiki (1550-1585). Putra dan penerus Raja Amai ini melahirkan falsafah” adati hula-hulaa to syaraa, syaraa hula-hulaa to adati” yang berarti ”adat bertumpuk pada syarak”. Bila rumusan pertama, adat menjadi pusat pemikiran, maka pada rumusan raja kedua terjadi hubungan timbal balik. Baik baik adat maupun syarak, keduanya menjadi pusat pemikiran. Dalam batas-batas tertentu, keduanya saling mendekati dan menyatu.

Proses ketiga terjadi pada zaman Raja Eyato (1673-1679) melahirkan rumusan ”adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to qur’ani” yang berarti ”Adat bersendi pada syarak, dan syarak bersendi pada al-Quran”. Rumusan ini bersifat evaluatif-validatif. Itu berarti, adat yang dijalankan dievaluasi untuk menemukan kebenaran pijakan adat. Alat untuk mengukurnya adalah syariat yang bersumber dari al-Quran. Jika pada rumusan falsafah adat pertama, adat menjadi pusat pemikiran, pada rumusan falsafah adat kedua, terjadi hubungan timbal balik antara adat dan syariat, maka pada rumusan falsafah adat terakhir, al-Quran menjadi pusat pemikiran. Al-Quran menjadi referensi utama untuk mengevaluasi dan memvaliditasi keabsahan adat. Menurut Ibrahim Polontalo, rumusan ketiga yang dibangun oleh Sultan Eyato ini bersifat linier thingking, istiqamah, harus menuju ke hukum syara’, dan hukum syara’ yang bersumber pada Kitab Allah atau landasan tauhid. Pemikiran Sultan Eyato ini melahirkan budaya dan peradaban Islam baru, yakni versi Islam yang kaffah dalam mengembangkan budaya dan peradaban Islam di kerajaan Gorontalo masa Sultan Eyato.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas