KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI FIKIH MURTAD


Kamis, 01 Februari 2018

Ahmad Fahmi

Publikasi LP2M

Dibaca: 196 kali

KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI FIKIH MURTAD

 

Secara sederhana murtad berarti menjadi kafir setelah beriman atau setelah memeluk Islam.Terma murtad berasal dari kata irtidâd, yang berarti kembali. Itu berarti kata murtad –sebagai bentuk fâ’il (subyek) merujuk kepada pelaku apostasi, sedangkan tindakan apostasi disebut riddah. Meskipun kata irtidad sendiri berasal dari kata riddah yang berarti keduanya semakna, namun al-Ashfahâ membedakannya bahwa irtidâd digunakan untuk orang kafir dan selainnya, sedangkan riddah hanya untuk orang kafir. Dalam tulisan ini, istilah murtad tidak saja merujuk kepada pelaku apostasi tetapi tindakan apostasi adalah bentuk kemurtadan.

Dalam diskursus fikih, murtad dan tindakan kemurtadan (riddah) dikategorikan sebagai kejahatan pidana, sehingga digolongkan sebagai jarîmah hudûd. Menurut kesepakatan ulama (ijmak), sanksi dan hukuman atas tindakan apostasi adalah hukuman mati. Fikih murtad ini dalam catatan Sayyid Husain Hasyimi menuai kritik, karena dinilai tidak sejalan dengan semangat kebebasan beragama. Bahwa pemaksaan dalam agama terlarang dalam al-Quran. Karena itu, hukuman mati terhadap pelaku murtad bertentangan dengan Q.S. al-Baqarah ayat 256: Lâ Ikrâha fî al-Dîn” (Tidak ada pemaksaan dalam agama). Menurut al-Thabâthabâî, hukuman kemurtadan tersebut tidak bertentangan dengan ayat tersebut. Sebab pada prinsipnya ayat tersebut menjelaskan bahwa pemaksaan atas seseorang agar memiliki suatu kepercayaan tidaklah mungkin secara rasional. Agama adalah urusan hati dan perkara keyakinan. Oleh karena itu, secara rasional, ia tidak dapat dipaksakan.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas