KRITIK TERHADAP HUKUM ISLAM INDONESIA: REINTERPRETASI FEMINIS MUSLIM TERHADAP AYAT POLIGAMI


Kamis, 01 Februari 2018

Ahmad Fahmi

Publikasi LP2M

Dibaca: 185 kali

KRITIK TERHADAP HUKUM ISLAM INDONESIA:

REINTERPRETASI FEMINIS MUSLIM TERHADAP AYAT POLIGAMI

 

Oleh: Sofyan A.P. Kau dan Zulkarnain Suleman

Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo

 

Tulisan ini berisi kritik dan pembaruan feminis terhadap hukum keluarga Islam Indonesia tentang kebolehan poligami dalam UU Perkawinan (UUP) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Kebolehan poligami tersebut dinilai oleh kalangan feminis tidak berkeadilan gender dan berdampak buruk terhadap perempuan dan anak. Untuk itu mereka melakukan kritik dan pembaruan. Salah bentuk pembaruan yang ditawarkan adalah reinterpretasi terhadap teks. Q.S. al-Nisa’: 3. Ayat yang menjadi basis teologi atas kebolehan poligami ini dibaca ulang kelompok feminis muslim dengan tiga pendekatan. Pertama, pendekatan holistik, yaitu pemahaman terhadap suatu ayat dengan mengaitkan ayat sebelum dan sesudahnya, melihat konteks historis turunnya ayat serta mendasarkan kepada prinsip universal kemanusiaan. Kedua, pendekatan tafsir tandingan yaitu dengan cara menghadirkan pendapat ulama tafsir yang pro terhadap pendapat feminis. Berdasarkan reinterpretasi dengan dua pendekatan tersebut disimpulkan bahwa poligami tidak boleh, h}aram li ghayri. Ketiga, pendekatan fikih alternatif, yaitu menghadirkan pemahaman alternatif yang didukung oleh pendapat ulama modern; pemahaman mana bercorak gender.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas