TARIAN SARONDE PRODI BAHASA INGGRIS TAMPIL MEMUKAU


Tarian Sarode diangkat dari tradisi masyarakat Gorontalo saat malam pertunangan dalam rangkaian upacara adat pernikahan. Tarian ini biasanya ditampilkan oleh para penari pria dan wanita dengan gerakan khas serta menggunakan seledang sebagai atribut. Selain menjadi bagian dari adat pernikahan, Tari Saronde juga sering ditampilkan dalam acara open ceremony, penyambutan tamu, pertunjukan seni, dan festival budaya.

Walau hampir digilas masa, namun semangat untuk merawat warisan budaya tersebut masih saja muncul menggebu di segelintir kalangan.

Di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo misalnya. Kelompok mahasiswa dari Program Studi Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menasbihkan diri mereka ambil bagian dalam menjaga eksistensi Tarian Saronde. Meski sepanjang waktu penat berkutat dengan jadwal kuliah yang padat, mereka tetap gembira berlatih bersama.

Sebagai kegiatan kemahasiswaan yang  mewadahi penyaluran minat, bakat, dan kreativitas di bidang seni tari, kelompok ini tidak membatasi anggotanya. Pesertanya pun tidak hanya berasal dari propinsi Gorontalo namun juga dari Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) serta Buol dan Palu (Sulawesi Tengah)

Jerih payah mereka berbuah hasil. Hampir dalam semua event yang diselenggarakan oleh kampus, pasangan muda mudi dengan latar belakang budaya  berbeda ini melenggok manis dengan balutan pakaian adat Gorontalo.

Penampilan apik yang diperagakan oleh mahasiswa dari berbagai lintas propinsi itu pun memukau ratusan pasang mata yang memandangnya. Mereka tampil luar biasa dalam acara pembukaan Debat Intelektual Mahasiswa yang diikuti oleh seluruh perguruan tinggi se-Propinsi Gorontalo, Selasa 13, November 2018 di Auditorium Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) IAIN Sultan AMAI Gorontalo.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas