HOAX DAN RADIKALISME DALAM DEBAT INTELEKTUALISME ANTAR PERGURUAN TINGGI


Bertempat di ruang auditorium Lembaga Peneltian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, Selasa, 13 November 2018, debat yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi se-Propinsi Gorontalo tersebut berlangsung seru.

Seluruh Perguruan Tinggi di Propinsi Gorontalo mengirim mahasiswa terbaiknya berpartisipasi. Mereka adalah : Universitas Muhammadiyah Gorontalo, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo, Politeknik Gorontalo, Universitas Ichsan Gorontalo, Universitas Nahdatul Ulama Gorontalo, Universitas Gorontalo, dan Universitas Bina Taruna Gorontalo.

Debat sempat alot ketika Moderator, DR. Razak Umar, M.Pd meminta masing-masing perguruan tinggi menyampaikan pandangannya terhadap tema yang diangkat. Ternyata, mengemuka dua pendapat berseberangan soal makna radikalisme. “Radikalisme itu hoax atau Fakta ? demikian tanya Razak Umar sembari memancing ketajaman analisis dan gelora kritis intelektualisme peserta.

Sebagian berpendapat bahwa radikalisme sangat dibutuhkan dalam momentum dan waktu tertentu. “Radikalisme, bila ditinjau latar belakang sejarah, ia menjadi bagian terpenting bagi kemajuan hidup manusia. Tragedi 98 adalah bukti. Jika bukan karena radikalisme berpikir dan bertindak mahasiswa serta elit saat itu, maka hari ini demokrasi kita masih terbelenggu oleh cengkeraman kekuasaan Orde Baru” pungkas perwakilan Universitas Nahdatul Ulama.

Sementara yang lainnya menimpali, “Radikalisme atas nama agama oleh segelintir penganutnya menjadi momok bagi kemanusiaan. Dangkalnya pemahaman agama, meyebabkan mereka menghalalkan darah manusia lainnya” sahut peserta lainnya.

Debat terbuka yang dikomandoi oleh Dr. Asna Usman Dilo tersebut mengangkat tema “Internasionalisasi Critical Thingking dalam Menangkal Isu Hoax dan Radikalisme” Sedangkan yang menjadi narasumber adalah Dr. Misbahudin, M.TH.I, selaku praktisi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) dan Mansur Martam, Lc. M.Sy, praktisi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Keduanya merupakan dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo

 

Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Lahaji, M.Ag,  dalam  sambutannya mengapresiasi kegiatan tersebut. “Saya kira kegiatan seperti ini harus intens dilakukan dalam rangka merangsang daya kritis kaum intelektual muda untuk menghadapi gencarnya hoax” kata Rektor diakhir sambutannya.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas