MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DITINJAU DARI ASPEK DAYA TARIK


Sabtu, 17 November 2018

Ahmad Fahmi

Publikasi LP2M

Dibaca: 59 kali

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DITINJAU

DARI ASPEK DAYA TARIK

Kajian Pengembangan Pariwisata di Gorontalo

 

Oleh; RONI MOHAMAD

Dosen IAIN Gorontalo

 

ABSTRAK

 

Konsep Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan sebuah sistem yang terdiri dari banyak aktivitas interdependen (saling terkait satu sama lain). Dimana MSDM melibatkan semua keputusan dan praktek manajemen yang berdampak langsung atau berpengaruh ke semua orang, atau sumber daya manusia yang bekerja bagi organisasi. Aktivitas ini tidak berlangsung menurut isolasi; yang jelas setiap aktivitas mempengaruhi SDM lain. Misalnya kebutuhan buruk menyangkut kebutuhan staffing bisa menyebabkan persoalan ketenagakerjaan, penempatan, kepatuhan sosial, hubungan serikat buruh, manajemen kompensasi. Sehingga MSDM sering disebut sebagai ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah bidang manajemen yang khusus mempelajari hubungan dan peranan manajemen manusia dalam organisasi perusahaan. Unsur MSDM adalah manusia yang merupakan tenaga kerja pada perusahaan. Dengan demikian, fokus yang dipelajari MSDM ini hanyalah masalah yang berhubungan dengan tenaga kerja manusia saja.

Kata Kunci; Manajemen, SDM dan daya tarik

PENDAHULUAN

Manajemen Sumber Daya Manusia atau MSDM (Human Resources Management) adalah bagian dari fungsi manajemen. Jikalau manajemen menitikberatkan ‘bagaimana mencapai tujuan bersama dengan orang lain’, maka MSDM memfokuskan pada “orang” baik sebagai subyek atau pelaku dan sekaligus sebagai obyek dari pelaku. Jadi bagaimana mengelola orang-orang dalam organisasi yang direncanakan (planning), diorganisasikan (organizing), dilaksanakan (directing) dan dikendalikan (controlling) agar tujuan yang dicapai organisasi dapat diperoleh hasil yang seoptimal mungkin, efisien dan efektif.

Hal yang menarik lagi manusia sebagai makhluk yang unik dibandingkan dengan makhluk lain didunia ini karena memiliki keinginan individual, keinginan kelompok atau keinginan dalam kelompok-kelompok dalam wujud yang lebih besar (organisasi) melakukan interaksi dan kerjasama yang melahirkan berbagai fenomena yang menarik untuk dikaji dan dipelajari dalam sumber daya manusia. Jadi, wajar bahwa MSDM merupakan manajemen inti yang menggerakkan organisasi sehingga suatu wadah organisasi baik yang berorientasi laba (profit organization) maupun organisasi yang berorientasi nirlaba (non-profit) tetap eksis dan memiliki kinerja yang dapat dinikmati oleh anggota-anggota dalam organisasi itu maupun memberi manfaat bagi masyarakat disekitarnya.

Perkembangan global secara langsung dan tidak langsung memiliki pengaruh terhadap organisasi dan manusia didalamnya. Budaya global berinteraksi dengan budaya regional, nasional, organisasi, dam fungsi-fungsi organisasi termasuk sikap, dan perilaku individu didalamnya sehingga perubahan global juga dapat direspon dan mempunyai hubungan dan pengaruh dengan aktivitas manusia dalam organisasi. Perkembangan global memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmi MSDM karna pda dasarnya memang perubahan itu terjadi pada segenap manusia yang selama ini berada dalam organisasi-organisasi. Perubahan merupakan fenomena yang tidak mungkin dihindari, tetapi bagaimana SDM dapat memanfaatkan perubahan bagi kepentingan organisasi dan anggota-anggota didalamnya. Jika tidak dapat beradaptasi dengan perubahan lngkungan yang terjadi maka organisasi akan menjadi ‘status quo’ yang berakhhir pada pengurangan bahkan pemusnhan organisasi di masa yang akan datang.

Naisbitt (1994;109), memprediksikan bahwa pariwisata bakal menjadi penghasil terbesar dan terkuat dalam pembiyaan ekonomi global. Pariwisata akan menyerap 204 juta tenaga kerja,  penghasil 10,2 persen produk nasional bruto dunia, berpotensi memberi kontribusi pajak sebesar $ 655 milyar. Lebih lanjut Naisbitt menjelaskan bahwa walaupun ada kemunduran yang disebabkan oleh ekonomi maupun politik, termasuk perang, ancaman terorisme global, dan pergolakan ekonomi diberbagai Negara dan kawasan; masa depn turisme atau pariwisata lebih cerah daripada sebelumnya.

World Tourism Organization  (dalam Hery Susanto, Dkk; 2003:211) melontarkan estimasi optimistic dalam WOT’S Tourism 2020 Vision,  yang memperkirakan jumlah kunjungan pariwisata internasional di seluruh dunia akan mencapai 1.006,4 juta pada tahun 2010 dan 1561 juta pada taun 2020. Secara total, tingkat kunjungan wisatawan diperkirakan akan bertumbuh 4,1% pertahun. Untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik diperkirakan dapat mencapai pertumbuhan 6,5%.

Selanjutnya  Hery Susanto, Dkk, (2003:227-228) menjellaskan bahhwa di tingkat nasional, sektor periwisata sesungguhnya mempunyai potensi sebagai lokomotof bagi pemulihan ekonomi nasional. Hal ini terbukti; pertama, dari tahun ke tahun sektor pariwisata berhasil menyumbangkan devisa yang tidak sedikit. Dalam tahun 2000-2001 devisa yang dihasilkan cukup tinggi 10,4 milyar. Untuk tahhun-tahun kedepan, sektor pariwisata diperkirakan akan tetap memberikan sumbangan devisa yang besar bagi negara yaitu sebesar $ 22,70 milyar. Kedua, pengeluaran belanja mwisatawan baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) terbukti mampu menggerakkan perekonomian nasional, khususnya ekonomi kerakyatan pada tahun 2000, pengeluaran wisman dan wisnus diperkirakan mencapai angka Rp. 90 triliun. Ternyata pegeluaran belanja wisatawan  tersebut member efek berantai pada aktifitas bisnis masuarakat, seperti bisnis penerbangan, perhotelan, restoran, transportasi, pemaasok makanan, pemasok fashion, tukang becak, hingga pedaganng kaki lima yang menawarkan pernak-pernik dan kerajinan tangan. Diperkirakan ada 16 juta tenaga kerja terkait langsung dengan sektor pariwisata.

Selengkapnya klik disini: MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DITINJAU DARI ASPEK DAYA TARIK


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas