20 Tahun Pulas, Menwa IAIN Sultan Amai Gorontalo Bangkit melawan Radikalisasi Kampus.


Rabu, 06 Februari 2019

Ramli Y. I.

Kampus

Dibaca: 414 kali

Saat ini, Resimen Mahasiwa (Menwa) mulai menunjukan eksistensinya di beberapa kampus dengan status sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dibawah naungan Rektorat. Di Institut Agama Islam Negerui (IAIN) Sultan Amai Gorontalo misalnya, Menwa bergegas bangkit usai pulas dari tidur panjangnya.

Berbeda dengan kondisi sebelumnya, posisi Menwa yang kala itu dituduh sebagai kaki tangan TNI untuk menanamkan ideologi-politik militerisme/dwi fungsi ABRI melalui jalur komando teritorial ke warga sipil, kini Menwa adalah pionir penguatan nilai Pancasila ditengah meredupnya nasionalisme dan rasa cinta NKRI civitas akademika yang kian tenggelam.

“Masuknya paham radikalisme di dunia pendidikan saat ini, termasuk kampus, menjadi alasan utama mengapa eksistensi Menwa harus dibangkitkan lagi” kata Ramoend Manahung, M.Sos.I, pimpinan tertinggi sekaligus motor bangkitnya Menwa di IAIN Sultan Amai Gorontalo.

“Ini saatnya untuk membuktikan bahwa Menwa bukan “sipil rasa militer” seperti yang generasi pasca orde baru tuduhkan. Menwa adalah barisan pengawal utama Pancasila diwilayah kampus” tegasnya lagi penuh semangat.   

Dalam sejarahnya, secara konseptual Menwa muncul dari sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (HAMKAMRATA). Ia hadir dari kebijakan Dwifungsi ABRI 1957 yang mendesain kelompok sipil ke arah semi militer. Awalnya, jalur komando TNI ke Menwa disahkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri: Menhankam Pangab, Mendikbud dan Mendagri Nomor Kep/39 /XI/1975, 0246a /U /1975 , 247 /A/1975.

Selanjutnya, Menhankam/Pangab mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Pembinaan Menwa Nomor Kep/021/-1978, 05a/U/1978, 17A/1978. Pada perkembangannya, SKB itu direvisi di tahun 1994. SKB 3 Menteri tersebut melegitimasi tentara untuk melakukan pembinaan (pendidikan dan pelatihan) kepada Satmenwa (Satuan Resimen Mahasiswa) tingkat kampus.

Sejak jatuhnya Orde Baru, mahasiswa mulai gencar berkampanye luas dan menuntut pembubaran Menwa. Menwa dituntut bubar karena dianggap masih menjadi perpanjangan tangan orrde baru dalam menanamkan kembali rezimnya di jaman reformasi.

Sehingga, pada tahun 2000 SKB Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengeluarkan SKB No.KB/14/M/X/2000, No. 6/U/KB/2000 dan No.39 A Tahun 2000 tertanggal 11 Oktober 2000, tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Menwa yang menghapuskan kewenangan TNI dalam pembinaan terhadap Menwa.

Kini, setelah ‘tertidur’ hampir 20 tahun lamanya, Menwa IAIN Sultan Amai Gorontalo memutuskan bangkit kembali. Pengaktifan tersebut, seperti kata Ramoend, dikarenakan Menwa, embrionya memang memiliki jiwa bela Negara. “ Atas nama perang melawan radikalisme, Menwa IAIN Gorontalo harus bangkit. Sejak tahun 2017 hingga 2018 kemarin kami (Menwa) mempunyai 35 anggota. Bahkan di tahun ini (2019) hampir 100 mahasiswa yang sedang mengikuti pendidikan” pungkasnya diakhir wawancara.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas