Gelar Tumbilotohe, Komitmen IAIN Gorontalo Merawat Kearifan Lokal


Sabtu, 01 Juni 2019

Ramli Y. I.

Kampus

Dibaca: 101 kali

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo tidak pernah sepi dari pelaksanaan kegiatan yang bernuansa budaya dan adat istiadat Gorontalo.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya maka pada 2019 atau tepatnya 1440 Hijriyah, kampus Islam tertua di daerah yang bergelar Serambi Madinah tersebut kembali menyelenggarakan Tumbilotohe.

Sepanjang halaman kampus dijejali lampu tradisional. Disaat yang bersamaan kita akan dibuat terpesona oleh kerlip bolam hias yang memanjakan mata pengunjung.

Simbol ketaatan masyarakat Gorontalo terhadap perintah Illahi pada tiga malam penghujung bulan Ramadhan itu terasa kental ruhnya saat lebih dalam kita menapakkan kaki pelataran mesjid kampus hijau tersebut.

Dalam telaah history, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke 15 M. Masa gulita itu melahirkan Tradisi Tumbilotohe yang dimaksudkan untuk membantu masyarakat Gorontalo menuju mesjid pada malam lailatul qadar.

Seiring berjalannya waktu Tumbilotohe tidak sekedar dimaknai sebagai kegiatan menerangi jalan ke mesjid. Lebih dari itu, tradsi ini menjadi girah bagi muslim Gorontalo mengawal keyakinannya dalam menjiwai Ramadhan sebagai wujud kecintaannya kepada Islam.

“Berbad-abad ia (tumbilotohe, red) telah mengawal keyakinan banyak orang agar tetap mencintai Islam dan menjiwai Ramadhan” tutur Dr. Andries Kango, M.Ag.(https://www.facebook.com/search/top/?q=kango%20andries&epa=SEARCH_BOX)

Pimpinan pengurus Takmirul mesjid kampus Sultan Amai Gorontalo sekaligus dosen dan Ketua Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah tersebut hendak menegaskan bahwa Tradisi Tumbilotohe adalah kearifan lokal yang harus dirawat dalam menguatkan syareat Islam di Gorontalo.

Kenyatannya memang tidak sedikit satu-dua dan segelintir orang yang menyampaikan kritik, bahkan apatis terhadap tradisi tumbilotohe. Mereka menuduh bahwa tradisi ini menjadi biang melompongnya mesjid ditinggal jamaah karena lebih tergoda menikmati aspek seremonial yang ditawarkannya.

“Kalau tradisi ini harus dihapus atau dihujat rasanya tidak bijak. Generasi memang harus berganti tapi tradisi mulia bagusnya terus dijaga. Kalau ia dianggap "merusak" karena perubahan konteks, barangkali bukan ia yang harus disirnakan tapi kualitas generasilah yang harus diangkat” tandasnya.

Sambungnya lagi. “Diantara sebab kegagalan kita, barangkali karena mendurhakai ajaran-ajaran mulia umat terdahulu. Padahal mereka mengambil dan meletakkan fondasi peradaban daerah ini dari nilai-nilai kitab suci, juga atas dorongan niat suci”

Tumbilotohe adalah pengejawantahan kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur keislaman orang Gorontalo dalam membentuk pribadi yang bertakwa. Dengan menggelar berbagai macam  tradisi Gorontalo, semisal tumbilotohe, adalah bukti komimen kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo merawat ragam kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

 

 


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas