Rektor IAIN Gorontalo Menjadi Khotib Idul Fitri Di Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo


Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Lahaji, M.Ag, menegaskan Idul Fitri  merupakan momentum untuk mengukuhkan persatuan dan merajut kerukunan.

“Pendidikan ramadhan baru saja kita lalui. Jenjang pendidikan singkat yang sengaja dihadirkan Tuhan setiap tahun guna menempa diri setiap hambanya agar dapat menjadi insan berkarakter dan ter-upgrade kualitas dirinya, baik dari sisi spiritualitasnya maupun sisi sosialnya,” tandas Lahaji saat bertindak sebagai Khotib Shalat Idul Fitrih 1440 H di Mesjid Agung  Baiturrahim Kota Gorontalo, Rabu pagi (5/6/2019).

Dihadapan Gubernur Gorontalo juga Waliokota dan Wakil Walikota Gorontalo serta ribuan jamaah sholat Idul Fitri, Lahaji menjelasakan Ramadhan menawarkan kurikulum yang terdiri atas 5 mata kuliah wajib, yaitu: 1) Berpuasa; 2) Mengeluarkan zakat fitrah; 3) Shalat 5 waktu; 4) Menjaga lidah/mulut dari dosa; 5) Menahan diri berbuat maksiat. Dan ditambah 12 matakuliah sunah/pilihan, yaitu: 1) Shalat tarwih; 2) Shalat tahajjud; 3) Shalat witir; 4) Bersahur; 5) Tadarus al-Qur’an; 6) Sedekah; 7) Umrah; 8) Berzikir/Beristigfar; 9) Berdoa; 10) Berbuka Puasa; 11) Memberi hidangan berbuka; 12) Beri’tikaf.

“Setiap alumninya diberi gelar spesial yang tidak ditemukan satupun sekolah atau perguruan tinggi di dunia ini yang menggunakannya, yaitu gelar “Muttaqin”. Meski nilai IPK nya tidak pernah dipublis oleh sang penyelenggara pendidikan, namun diduga kuat siapapun yang menjalani kurikulumnya berhak menyandang gelar tersebut bahkan mendapat aneka fasilitas lainnya di akhirat kelak,” Tegas mantan Dekan Fakultas Syariah.

Lanjut Lahaji, Setelah menyelesaikan pendidikan Ramadhan, saatnya kita wisuda akbar dengan merayakan hari raya Idul Fitri yang merupakan puncak dari kehangatan spiritual sekaligus ajang ekspresi kegembiraan dan kemenangan seorang mukmin yang memang diinstruksikan Tuhan untuk dilakukan setiap kali merasakan karunia atau rahmat Allah swt di tengah kehidupan.

Itulah mengapa hari ini disebut dengan Idul Fitr. Sebab kata “id” yang bemakna “kembali atau hari raya”, dan “fitri” berarti “makan atau berbuka, atau fitrah dan asal kejadian manusia”.

“Artinya, Idul Fitri merupakan hari kembalinya seorang muslim pada fitrah kemanusiaan dan asal kejadiannya, laksana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya yang bersih dari dosa,”  jelas Lahaji

Lebih dalam Lahaji menambahkan, melalui Idul Fitri ini, seakan Allah swt ingin menghadirkan suatu relaksasi sosial dan spiritual bagi hambanya agar dapat terajut kembali kerukunan dan bangkit rasa persatuannya. Olehnya itu, Idul Fitri tidaklah dihadirkan Tuhan untuk mereka yang masih mengumbar dengki dan kebencian, tidak untuk mereka yang menyembah hawa nafsunya dan ingin menghancurkan manusia lain, tidak untuk mereka yang melakukan kekerasan dan diskriminasi karena perbedaan suku, budaya, ras, pilihan politik maupun agama, tidak pula untuk mereka yang suka korupsi dan menghisap darah rakyat, tidak juga untuk mereka yang pandai menjual ayat-ayat Tuhan untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya, bahkan, tidak untuk mereka yang merawat nafsu keserakahan. Sebab, nilai-nilai pendidikan yang dipetik selama Ramadhan sangatlah kontradiktif dengan semua itu.

Ramadhan mengajarkan kita untuk berkasih sayang dan berempati melalui perintah bersedekah dan berzakat. Mengajarkan sikap jujur dan amanah selama berpuasa. Mengajarkan kita membangun budaya damai dan menghindari konflik saat menjalani interaksi sosial saat puasa. Serta mengajarkan kita untuk hanya mengeluarkan kalimat yang baik, santun dan indah dengan banyak membaca al-Qur’an, zikir, dan doa.

“Salah satu makna fitrah adalah asal kejadian yaitu diciptakannya mereka dari sari pati tanah. Itu berarti, rasa nasionalisme, patriotisme, serta cinta tanah air dalam diri merupakan fithrah kemanusiaan,’ ujar Lahaji

Melalui  mimbar Idul Fitri Lahaji berpesan, mari kita jadikan ‘idul fitri, sebagai momentum untuk membina dan memperkukuh ikatan kesatuan dan persatuan kita, menyatupadukan hubungan kasih sayang antara kita semua, sebangsa dan setanah air. Marilah dengan hati terbuka, dengan dada yang lapang, dan dengan muka yang jernih, serta dengan tangan terulurkan, kita saling memaafkan, sambil mengibarkan bendera as-Sala>m, bendera kedamaian di tanah air tercinta, bahkan di seluruh penjuru dunia.

“Semoga Allah berkenan menerima ibadah shiyam, qiyam, ith’am, i’tikaf, zikir dan wirid serta qira’atul qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Kiranya Allah-pun berkenan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun depan,” tutup Lahaji (aadum)


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas