Rektor IAIN Tandatangani MOU Dengan DPP IKA UII


Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo terus mengembangkan berbagai bentuk kerjasama dengan berbagai institusi. Kali ini, IAIN Gorontalo melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Indonesia (UII).

Penandatangan MoU itu dilaksanakan langsung oleh Rektor IAIN Gorontalo, Dr. Lahaji, M.Ag dengan Ketua DPP IKA UII, Prof. Moh. Mahfud MD, di gedung LPM kampus 1 kota Gorontalo, Sabtu (6/7/19)

Kerjasama yang terjalin antara IAIN Gorontalo dan IKA UII terfokus pada pengembangan tridharma perguruan tinggi yang meliputi bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia serta bidang lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam sambutannya rektor menyampaikan, sangat mengapresiasi kerjasama yang terjalin antara IKA UII dengan IAIN Gorontalo, karena Secara historis-institusional, cikal bakal IAIN Sultan Amai Gorontalo tidak dapat dipisahkan dari Universitas Islam Indonesia (UII).

“Secara historis-institusional, cikal bakal IAIN Sultan Amai Gorontalo tidak dapat dipisahkan dari Universitas Islam Indonesia (UII) cabang Yogyakarta dan Universitas Islam Gorontalo (UIG). Kedua universitas ini merupakan perguruan tinggi swasta pertama yang eksis di daerah Gorontalo,” ujarnya

 

Ketua DPP IKA UII Prof. Moh Mahmud Md, mengawali materinya pada seminar nasional, menjelaskan bahwa embrio dari IAIN Gorontalo brerasal dari UII, hal ini diawali dari sejarah pembentukan UII.

Mahfud menjelaskan bahwa Universitas Islam Indonesia didirikan pada tanggal 27 Rajab 1364 H atau bertepatan dengan 8 Juli 1945 (40 hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia), dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. STI adalah cita-cita luhur tokoh-tokoh nasional Indonesia yang melihat kenyataan bahwa ketika itu pendidikan tinggi yang ada adalah milik Belanda. STI lahir untuk menjadi bukti adanya kesadaran berpendidikan pada masyarakat pribumi.


Dibidani oleh tokoh-tokoh nasional seperti Dr. Moh. Hatta (Proklamator dan mantan Wakil Presiden RI), Moh. Natsir, Prof. KHA. Muzakkir, Moh. Roem, KH. Wachid Hasyim, dll, menjadikan STI sebagai basis pengembangan pendidikan yang bercorak nasional dan Islamis serta menjadi tumpuan harapan seluruh anak bangsa.

Seiring hijrahnya ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, maka STI pun hijrah dan diresmikan kembali oleh Presiden Soekarno pada tanggal 27 Rajab 1365 H atau bertepatan dengan tanggal 10 April 1946 bertempat di nDalem Pangulon Yogyakarta.

”Untuk peningkatan peran dalam perjuangan, maka STI yang kala itu menjadi satu-satunya perguruan tinggi Islam, diubah menjadi universitas dengan nama University Islam Indonesia atau sekarang Universitas Islam Indonesia” jelasnya

Lebih dalam Mahfud menjelaskan, bahwa realisasi perubahan STI menjadi UII didahului pembukaan kelas pendahuluan (semacam pra universitas) yang diresmikan pada bulan Maret 1948 di Pendopo nDalem Purbojo, Ngasem Yogyakarta. Sedangkan , pembukaan UII (menggantikan STI) secara resmi diselenggarakan pada tanggal 27 Rajab 1367 H (bertepatan dengan tanggal 4 Juni 1948) bertempat di nDalem Kepatihan Yogyakarta dan mendapat kunjungan dari para menteri serta pejabat sipil dan militer lainnya.

Dengan demikian, pada tanggal 27 Rajab (4 Juni 1948) hadirlah University Islam Indonesia yang merupakan wajah baru STI dan telah resmi beroperasi sejak tiga tahun sebelumnya di Negara Republik Indonesia, dan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang didirikan pada tanggal 8 Juli 1945 menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 27 Rajab 1367 H atau tanggal 10 Maret 1948 M.

UII sebagai universitas swasta tertua di Indonesia, kemudian berkembang sangat pesat dengan lebih 22 fakultas cabang, tersebar diseluruh Indonesia (Surakarta, Madiun, Purwokerto, Gorontalo, Bangil, Cirebon dan Klaten) dengan pusatnya di Yogyakarta.

“Namun seiring dengan kebijaksanaan pemerintah bahwa cabang universitas harus ditiadakan, maka cabang-cabang ini kemudian tumbuh sebagai perguruan tinggi baru (baik negeri ataupun swasta) atau tergabung dengan perguruan tinggi negeri yang telah ada,” Tutup mahfud (Aadum)


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas