PRAKTEK KEPEMIMPINAN HATI NURANI DALAM BISNIS WIRAUSAHAWAN MUSLIM DI KOTA GORONTALO


Andi Mardiana

PRAKTEK KEPEMIMPINAN HATI NURANI DALAM BISNIS WIRAUSAHAWAN MUSLIM DI KOTA GORONTALO

Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan oleh Allah SWT kemuka bumi, sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini, oleh sebab itu manusia tidak terlepas dari perannya sebagai pemimpin, dimensi kepemimpinan merupakan peran dalam setiap upaya pembinaan. Hal ini telah banyak dibuktikan dan dapat dilihat dalam gerak langkah setiap organisasi. Peran pemimpinan begitu menentukan  ukuran efektif nya suatu organisasi.
Proses kepemimpinan tidak selalu didominasi oleh pertimbangan rasional dan intelektual, melainkan juga hati nurani. Melibatkan hati hati nurani berarti mengikutsertakan empati, keadilan, kejujuran batiniah dan kemanusiaan ke dalam proses kepemimpinan.
Pemimpin yang memiliki hati nurani tidak hanya menata pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian berdasarkan rasionalitas semata untuk mencapai tujuan. Dia juga melibatkan  hati nurani untuk mencapai sasaran organisasi yang dipimpinnya, yang terpenting untuk diketahui bahwa hanya pemimpin yang memiliki hati nurani yang mengelola kepemimpinannya dengan arif dan bijaksana. Kepedulian, ketulusan, atau empati yang diekspresikan hati nurani, bukanlah pura-pura atau manipulatif yang dilandasi oleh kepentingan tersembunyi.
Kepemimpinan dalam kondisi apapun sangat diperlukan, baik bagi diri sendiri, lingkungan keluarga, masyarakat dan lainnya. Apalagi kepemimpinan yang berhubungan dengan orang banyak seperti misalnya di sektor bisnis. Dalam menjalankan bisnis, seseorang sangat dituntut untuk memiliki kemampuan khusus, sebab itu akan berpengaruh pada keberhasilan bisnis yang sedang dijalankannya. Jika ia salah  dalam memimpin, maka kehancuran akan menimpa bisnisnya.
Sebesar atau sekecil apapun bisnis atau perusahaan, tentu memerlukan kepiawaian seorang pemimpin. Bagaimana mungkin sebuah kapal berlayar tanpa nahkoda. Bagaimana mungkin ada sebuah negara tanpa seorang presiden, raja, atau pemimpin. Setiap perusahaan mempunyai gaya dan jenis kepemimpinan yang berbeda dalam menjalankan bisnisnya.
Seorang pemimpin dalam berorganisasi harus mampu bersikap professional. Keprofesionalan disini dimaksudkan ahli dalam bidangnya. Perwujudan dari sikap ini diantaranya yaitu bekerja sebagai ibadah, bekerja sebagai sebuah amanah, bekerja dengan sungguh-sungguh, menghargai waktu, kerjasama, bekerja dengan pengetahuan, bekerja dengan memiliki keahlian, dan pengendalian mutu. Dengan begitu dapat menciptakan karakteristik pemimpin yang berkualitas nantinya.
Dunia kewirausahaan dapat dianalogikan seperti mengendarai sesuatu yang kita tidak terbiasa di dalam suatu lingkungan yang tiba-tiba tampak lebih berbahaya daripada yang kita perkirakan pada awalnya. Kebiasaan kita adalah untuk menarik diri kepada kenyamanan di dalam kepompong, sesuatu yang kita percayai lebih aman, di mana kita dapat bersantai sejenak tanpa perlu berkonsentrasi dan mendapatkan sesuatu tanpa terlalu memikirkan bagaimana kita melakukannya. Kebiasaan semacam ini harus digantikan dengan memahami pninsip-pninsip yang akan memastikan bahwa kita dapat mencapai tujuan kita dan berlatih dengan disiplin sampai kita bisa melakukannya.
Kewirausahaan mempunyai fungsi yang berperan penting untuk perkembangan ekonomi setiap negara, bahkan mampu menyerap sumber daya manausia untuk mengurangi angka pengangguran. Untuk itu pemerintah gencar meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu berwirausaha, bahkan memasukan kurikulum kewirausahaan dalam pendidikan.
Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan inovatif. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Kualitas diri seorang pengusaha muslim yang tinggi meliputi fisik (jasmani), kualitas berfikir (kecerdasan), kualitas rohani (iman), dan kualitas berkarya (amal). Namun jika tidak dapat merealitas kualitas fisik, berfikir, dan rohani, akan mengakibatkan perusahaan yang dikelolanya menjadi stagna, bahkan dapat berhenti, tidak ada produksi.
Bekerja membuat manusia mampu mengeksplorasi dan mengaktualisasikan segenap potensi dirinya. Dengan bekerja, manusia mengukuhkan eksistensi hidup, dan menegakkan martabat diri, serta membawa diri manusia ke tingkat yang lebih mulia, dan lebih agung. Tetapi, belum tentu setiap orang yang bekerja senantiasa menghasilkan kesuksesan.  Terutama jika manusia bekerja hanya sekedarnya saja, namu n tidak disertai keamauan dan kesanggupan. Bekerja bagi seorang muslim adalah upaya yang sungguh-sungguh dengan mengarahkan seluruh asset, pikiran, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menenmpatkan dirirnya sebagai bagian masyarakta yang terbaik.
Hampir pada semua perusahaan yang ada, pegawai merupakan asset penting yang wajib mereka jaga. Oleh karena itu bagi perusahaan yang khususnya bergerak dibidang jasa pelayanan yang mengandalkan tingkat kinerja pegawai di perusahaannya, maka perusahaan tersebut dituntut untuk mampu mengoptimalkan kinerja pegawainya. Salah satu pendekatan dalam upaya meningkatkan kinerja pegawai tersebut dapat dilakukan melalui praktek kepemimpinan atau gaya kepemimpinan yang handal dan motivasi berprestasi yang tinggi dan terarah. Setiap pemimpin pada dasarnya memiliki perilaku yang berbeda dalam memimpin para pengikutnya, perilaku para pemimpin itu disebut dengan gaya kepemimpinan. Kepemimpinan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan motivasi, karena keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan motivasi didalam diri setiap orang bawahan, kolega maupun atasan pemimpin itu sendiri. Demikian halnya dengan kurangnya motivasi pegawai seperti tidak disiplin masuk kerja, malas-malasan dalam bekerja akan menyebabkan kinerja pegawai rendah.
Bisnis dalam konvensional yang dipengaruhi oleh sistem kapitalisme lebih cenderung mengarah pada orientasi laba dan memandang bahwa manusia adalah merupakan bagian dari faktor produksi. Sebagaimana Mulyono (2010:126) kapitalisme hidup dan mempertahankan dirinya dengan penghisapan terhadap hasil curahan kerja keras pekerja. Sedangkan bisnis yang berpijak pada Islam memandang bahwa dalam suatu organisasi bisnis adalah bagaimana dapat meningkatkan interaksi sosial yang baik dalam perusahaan, serta tidak memandang manusia sebagai faktor produksi semata, tapi tenaga kerja merupakan bagian yang terpenting dalam perusahaan serta selalu melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Dalam Islam, menurut gagasan Ibnu Khaldun (2006) kebahagiaan dan keuntungan seringkali dicapai oleh orang yang patuh, keuntungan yang dibuat oleh makhluk manusia merupakan nilai yang ditimbulkan dari hasil kerja mereka. Hal ini sejalan dengan Zubair Hasan yaitu Islam menegaskan bahwa pekerja harus menjadi bagian dari pemilik, terutama dalam bisnis produksi yang besar, mungkin yang paling adil adalah kontrak untuk menerima upah karena pekerja yang dinyatakan dalam output adalah sama dengan apa yang mereka berkontribusi untuk itu.
Konsekuensi ajaran Islam tidak hanya terbatas pada masalah hubungan pribadi antara individu dengan penciptanya (hablum minallah), namun mencakup juga pada hubungan manusia dengan manusia lainnya (hablum minannas), bahkan juga hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya. Jadi Islam adalah suatu cara hidup (way of life), yang membimbing seluruh aspek kehidupan manusia dalam upaya mencapai tatanan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Implementasi sosialitas terwujud berupa kehidupan berkelompok atau bermasyarakat sebagai hidup besama dalam kebersamaan yang harmonis dan dinamis, karena setiap individu terbuka dalam menerima pengaruh individu yang lain. Sebaliknya individu juga bebas dalam menyampaikan inisiatif,  kreatifitas dan inovasi yang mungkin diterima atau ditolak oleh individu-individu lain dalam mengembangkan kehidupan bersama dalam kebersamaan. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia, melalui norma atau nilai yang diterima sebagai pedoman hidup bersama. Seperti yang diungkapkan oleh Veithzal Rivai bahwa praktik kepemimpinan berkaitan dengan memengaruhi tingkah laku dan perasaan orang lain baik secara individual maupun kelompok dalam arahan tertentu, sehingga melalui kepemimpinan merujuk pada proses untuk membantu mengarahkan dan memobilisasi orang atau ide-idenya.
Penelitian ini dilakukan di Kota Gorontalo dengan pertimbangan bahwa Kota Gorontalo merupakan salah satu ibu Kota Provinsi yang berkembang dan tentunya banyak bermunculan usaha-usaha yang menggunkan tenaga kerja sebagai karyawan. Namun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah wirausahawan  yang bergerak dalam unit usaha butik muslimah. Mengingat kota Gorontalo merupakan salah satu Kota yang  masyarakatnya dominan muslim serta kota Gorontalo mendapatkan julukan sebagai Serambi Madinah. Dan melihat fenomena saat ini dikalangan masyarakat lagi trend dalam berbusana muslim, tentunya mendorong para wirausahawan untuk berbisnis butik khususnya butik muslimah. Semakin banyaknya wirausahawan  butik tentunya dapat menambah lapangan kerja bagi masyarakat. Melalui penyerapan tenaga kerja manusia, tentunya sangat memengaruhi kesejahteraan masyarakat serta memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi.

 

Selengkapnya: PRAKTEK KEPEMIMPINAN HATI NURANI DALAM BISNIS WIRAUSAHAWAN MUSLIM DI KOTA GORONTALO


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas