KEARIFAN LOKAL DALAM KEPEMIMPINAN ISLAM PADA PERUSAHAAN BISNIS DI KOTA GORONTALO


Andi Mardiana

KEARIFAN LOKAL DALAM  KEPEMIMPINAN ISLAM PADA PERUSAHAAN BISNIS  DI KOTA GORONTALO

Kepemimpinan secara luas meliputi proses memengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, memengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budaya, selain itu juga memengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian, dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok dan organisasi.
Wahjosumidjo, menjelaskan pengertian kepemimpinan adalah merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan suatu kinerja untuk memengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya untuk berfikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif, ia memberikan sumbangsih nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.
Dengan demikian pada setiap kepemimpinan minimal harus ada tiga unsur:
Seorang pemimpin yang memimpin, memengaruhi  dan memberikan bimbingan;
Anggota (bawahan) yang dikendalikan;
Tujuan yang diperjuangkan melalui serangkaian kegiatan. 
Fungsi kepemimpinan, yaitu menentukan tujuan, menjelaskan, melaksanakan, memilih cara yang tepat, memberikan serta merangsang para anggota untuk bekerja. Ngalim Purwanto, menyebutkan bahwa fungsi kepemimpinan adalah memandu, menuntun, membimbing, memberi atau membangun motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi yang efisien  dan membawa para pengikutnya pada tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.
Banyak pakar yang mendefinisikan kepemimpinan dalam berbagai perspektif. Stogdill misalnya, menyatakan bahwa “Adanya bermacam-macam definisi kepemimpinan tampaknya merupakan suatu bukti kurangnya penyesuaian dalam mendefinsikan konsep kepemimpinan.”Dengan demikian, definisi berbagai kepemimpinan tersebut hanya dapat dipergunakan sebagai penampungan berbagai maksud kepemimpinan.
Stogdill melakukan pendekatan terhadap masalah definisi kepemimpinan dari asumsi dasar bahwa kesamaan definisi adalah sekedar menyiapkan skema kategorisasi kepemimpinan secara garis besar, yaitu sebagai berikut: (1) fokus proses kelompok; (2) kepribadian dan pengaruhnya; (3) seni meningkatkan kepatuhan; (4) usaha meningkatkan pengaruh; (5) tindakan atau perilaku; (6) bentuk persuasi; (7) instrumen pencapaian tujuan; (8) pengaruh dari interaksi; (9) deferensiasi peran; dan (10) inisiasi dan struktur.
Di dalam Islam kepemimpinan identik dengan istilah khalifah yang berarti wakil. Permakaian kata khalifah setelah Rasulullah SAW. wafat, menyentuh juga maksud yang terkandung di dalam perkataan amir (yang jamaknya umara ) atau penguasa, dalam konteks bahasa Indonesia disebut pemimpin yang selalu berkonotasi pemimpin formal.
Kepemimpinan yang Islami adalah berdasarkan moral punya harapan untuk dapat mengarahkan seorang pemimpin. Pemimpin harus memiliki karakter yang bermoral melalui peningkatan keyakinan kepada Tuhan sehingga melahirkan empat kekuatan spiritual  yang berupa Iman, Islam, Taqwa dan Ihsan. Keempat  karakter tersebut dapat diukur dengan lima parameter kunci berupa perilaku Islami yang menyangkut tentang keadilan, amanah, kebajikan, berusaha meningkatkan diri dan menepati janji (Beekun,1999). Nilai spiritual  yang menyangkut iman, Islam, taqwa dan ihsan merupakan bagian dimensi kinerja bagi kepemimpinan Islami.
Kepemimpinan Islam sudah merupakan fitrah bagi setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia di amanahi Allah untuk menjadi khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi yang bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya dijalan Allah.
Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi (fitrah), serta kehendak bebas untuk menggunakan dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
 

Selengkapnya klik disini: KEARIFAN LOKAL DALAM  KEPEMIMPINAN ISLAM PADA PERUSAHAAN BISNIS  DI KOTA GORONTALO


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas