Tumbilotohe dan Lailatul Qadar: Sebuah Taddabur Filosofis


Selasa, 19 Mei 2020

Ramli Y. I.

Opini

Dibaca: 877 kali

Tumbilotohe dan Lailatul Qadar: Sebuah Taddabur Filosofis

Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi 
Alumni Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Seperti biasa di penghujung bulan Ramadhan, tiga malam terakhir, masyarakat Gorontalo merayakan tradisi Tumbilotohe (pasang lampu). Meski di masa pandemi kali ini, perayaan Tumbilotohe tidak semeriah seperti tahun-tahun kemarin. Tahun ini tak ada Festival Tumbilotohe, karena larangan berkerumun ditambah adanya kebijakan PSBB.

Tradisi Tumbilotohe diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-15 atau ke-16, sejak agama Islam memasuki kawasan Gorontalo. Di Bolaang Mongondow tradisi seperti ini disebut Tuntul atau Monuntul. Tradisi ini pula yang menjadi bukti historis pengaruh Gorontalo dalam islamisasi di Bolaang Mongondow. Ini penulis jumpai saat melakukan riset Islamisasi di Bolaang Mongondow yang didanai Puslitbang Lektur Kemenag tahun 2017 silam.

Jaman kiwari, tradisi Tumbilotohe telah mengalami banyak perubahan. Awalnya masyarakat Gorontalo zaman dulu menggunakan lampu tradisional yang bahan bakarnya dari getah damar. Seiring waktu, masyarakat beralih ke minyak kelapa (padamala) dan kemudian diganti dengan minyak tanah. Tumbilotohe seperti tradisi lainnya tak luput dari modernisasi, dari tohetutu berganti lampu listrik hias berwarna-warni.

Tradisi Tumbilotohe biasanya dimulai tepat di waktu magrib pada malam ke-27 Ramadhan. Saat menyalahkan lampu akan diiringi dengan pembacaan surat al-Qadr. Jumlah lampu yang dipasang umumnya sebanyak jumlah anggota keluarga di dalam rumah.

Masyarakat Gorontalo percaya bahwa dengan melakukan tradisi Tumbilotohe, mereka bisa mendapatkan berkah Lailatul Qadar. Kesadaran ini yang melandasi mereka melakukan tradisi Tumbilotohe secara sukarela. Mereka membeli atau membuat sendiri lampunya dan menyediakan minyak tanah, meski tanpa subsidi dari pemerintah.

Jika diselami, tradisi Tumbilotohe memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Catatan renungan ini mencoba mentadabburi makna terdalam dibalik tradisi Tumbilotohe. Sebisa mungkin ditelusuri juga koherensi Tumbilotohe dengan Lailatul Qadar.

Selayaknya filsafat yang tak mungkin berhenti pada gejala permukaan. Renungan filosofis ini mencoba menggali sedalam-dalamnya akar-akar yang ada di bawah gejala permukaan tradisi Tumbilotohe tersebut. Meski begitu, selayaknya sebuah produk pemikiran hasil dari mentadabburi hakikat ini hanya tafsir spekulatif semata yang bisa jadi tidak memuaskan pembaca. 

 Hakikat Tumbilotohe 

Jamak diketahui, secara etimologi Tumbilotohe berakar dari dua kata; tumbila (pasang) dan tohe (lampu). Jadi Tumbilotohe adalah tradisi pasang lampu. Meski bermakna pasang lampu, tradisi Tumbilotohe hanya berlangsung di bulan ramadhan. Pasang lampu di luar waktu ini tidak disebut Tumbilotohe. Beberapa tahun lalu, sempat ada seorang ustaz yang mengusulkan tradisi ini dirayakan di luar momentum ramadhan dalam ceramahnya, sontak saja ini menjadi polemik karena keluar dari pakem tradisi. 

Secara historis tradisi Tumbilotohe pada awalnya merupakan upaya masyarakat untuk menerangi jalan-jalan menuju ke masjid di masa lampu listrik belum ada. Dengan suasana terang benderang dipersepsikan orang-orang akan semakin giat dan bersuka cita ke masjid atau berzakat fitrah. 

Bate Lo Limutu, Darisman Katili, sebagaimana dikutip Republikpos.com (12/06/2018) mengungkapkan "hakekat Tumbilotohe mengandung 4 unsur, yakni, tulu (api), taluhu (air), dupoto (udara), dan huta (tanah)." Pada dasarnya semua unsur yang disebut Bate Darisman tersebut ada dalam diri manusia. Secara spekulatif Tumbilotohe justru merujuk pada manusia itu sendiri. Tumbilotohe hakikatnya adalah simbolisasi manusia, khusus manusia Gorontalo.

Dalam tataran filosofis, tradisi Tumbilotohe bermakna tersingkapnya ( kasyafa ) dari jalan kegelapan menjadi terang benderang. Konsep penyingkapan ini sepadan dengan bahasa Alquran yakni min al-dhulumat ila al-nur (dari kegelapan menuju cahaya). Kata al-dhulumat oleh para mufassir seringkali dimaknai kebodohan, kekafiran, kedurhakaan atau kesesatan. Sedangkan kata al-nur biasanya dimaknai iman, tauhid, petunjuk, jalan lurus atau ketaatan.

Dalam kitab Shafwat al-Tafasir makna min al-dhulumat ila al-nur (Qs. Ibrahim: 1) ditafsirkan sebagai fungsi diturunkannya Alquran untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, dan kesesatan menuju cahaya ilmu dan iman. Di sini kata al-dhulumat mencakup makna kebodohan sedang kata al-nur juga mencakup makna cahaya ilmu. Sehingga, konsep tersebut bukan hanya berdimensi dan berorientasi dakwah tetapi juga berdimensi dan berorientasi konstruksi intelektual.

Tumbilotohe sejatinya ditradisikan oleh para pendahulu sebagai kearifan lokal untuk mencerahkan. Sedangkan puncak spiritualitas tertinggi yang disebut ma’rifat adalah manusia yang telah tercerahkan. Tumbilotohe menjadi landasan mentransformasikan diri dari kegelapan dosa dan kebodohan menuju cahaya ketakwaan dan pencerahan. Cahaya ketakwaan atau la'allakum tattaqun (Qs. Al-Baqarah: 183), ini juga menjadi ciri suksesnya orang berpuasa.

 Tumbilotohe dan Lailatul Qadar, Simbol Mukasyafah 

Terdapat koherensi antara Tumbilotohe dan upaya menemukan Lailatul Qadar. Misalnya, saat memulai menyalahkan tohe (lampu) dalam tradisi Tumbilotohe akan diiringi dengan bacaan surat al-Qadar. Malam ke-27 Ramadhan sebagai permulaan tradisi Tumbilotohe juga diyakini masyarakat sebagai malam Lailatul Qadar. Hal ini senafas dengan hadis riwayat Abu Dawud: "lailatul qadar pada malam ke-27.” Meski terdapat ulama berbeda pandangan, tidak sedikit ulama yang pendapatnya sejalan dengan hadis ini.

Masyarakat Gorontalo juga percaya bahwa dengan melakukan tradisi Tumbilotohe, mereka bisa mendapatkan berkah Lailatul Qadar. Menyalakan lampu dalam tradisi Tumbilotohe dianggap sebagai simbol menerangi jiwa dan hati, serta wujud kesiapan menyambut Idul Fitri.

Jika tumbilotohe secara filosofis bermakna penyingkapan dari jalan kegelapan menuju cahaya. Lailatul Qadar juga sejatinya bermakna demikian. M. Subhi-Ibrahim dalam bukunya Literasi Batin: Menyelami Hakikat Keseharian, telah menguraikan makna Lailatul Qadar dengan begitu memukau dalam konteks ini. Menurutnya Lailatul Qadar adalah sebuah perlambang penyingkapan. Penyingkapan terjadi pada Lailatul Qadar. Lailah, sebagaimana malam adalah hijab, selubung. Sesuatu yang diselubungi biasanya adalah rahasia, serta menjadi misteri. Misteri adalah aspek esensial dari yang sakral. Sedangkan yang sakral tersembunyi di balik selubung ilusi, manifestasi. 

Sedangkan yang sakral tersebung Lailah, menurut Subhi-Ibrahim, itulah Al-Qadr, ketentuan; kemuliaan; kekuatan. Itulah spirit, intelek, ruh, kesadaran murni. Ruh tersembunyi di balik tubuh ( corpus , jism ) dan jiwa ( anima , nafs ). Jadi, pengetahuan suci tersingkap dalam misteri ruh ( inteleksi). Indra dan rasio tak kuasa mempersepsi Pengetahuan Suci. 

Meminjam istilah Subhi-Ibrahim, Lailatul Qadar sebagai sesuatu yang “subjektif" adalah individu (manusia) itu sendiri. Sebagaimana Tumbilotohe (bukan berarti menyamakan keduanya namun dalam batas keterkaitan) adalah juga manusia itu sendiri. Sedangkan moment mukasyafah, ketersingkapan saat Lailatul Qadar ini hanya akan dialami oleh manusia yang telah menyiapkan diri secara ruhani.

Pada momentum ini kesadarannya tersingkap ( kasyaf ) terhadap hakikat Kebenaran. Kenyataan ( al-Qadr ) seakan tampil apa adanya di hadapan pribadi (yang) di mana ruh dengan daya-daya ruhaninya berdaulat atas tubuh dan jiwanya. Inilah makna mendapat hidayah, pencerahan ruhani, kedamaian ( salam ). 

Apa yang diungkap Subhi-Ibrahim tersebut sejalan dengan Syekh Abdul Karim al-Jily (w. 826 H) yang mengatakan, “Substansi Lailatul Qadar pada seorang hamba adalah kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki.” Imam Qusyairi (w. 465 H) juga berpandangan senada bahwa Lailatul Mubarakah (malam keberkahan), “Dialah malam dimana hati seorang hamba hadir dan menyaksikan ‘pancaran’ Tuhannya. Di dalamnya ia merasakan kenikmatan dari cahaya pencapaian dan kedekatannya kepada Tuhan.” 

Lailatul Qadar sebagai momentum mukasyafah, bermakna tersingkapnya tirai atau hijab. Yang dimaksud terbukanya tirai di sini, adalah terbukanya rahasia dari segala rahasia dunia gaib secara mistik atau supranatural. Tumbilotohe sebagaimana yang sudah dijelaskan, juga bermakna ketersingkapan ( mukasyafah ). Meski ketersingkapannya sejauh ini sebatas dari kegelapan menuju cahaya. Namun ketersingkapan ini bakal lebih dalam saat lebur bersama ketersingkapan dalam momentum Lailatul Qadar.

Sayangnya transformasi penyingkapan yang terkandung dalam makna filosofis Tumbilotohe dan Lailatul Qadar inilah masih sering luput dari perenungan kita. Seharusnya sebagaimana tersingkapnya gelap malam dengan nyala lampu (tumbilotohe) dan tersingkapnya gelap ( lailah ) dengan cahaya kemulian ( al-qadr ), maka kita juga patut menyingkap tindakan negatif menjadi positif, destruktif menjadi konstruktif, bodoh menjadi berpengetahuan, lalai menjadi taat, dan lain sebagainya. 

Jika tahun kemarin kita tak sempat merenungkan dan menemukan makna tradisi Tumbilotohe karena terjebak menikmati tampilan permukaan berupa perayaan dan festival. Semoga tahun ini, saat tak ada lagi perayaan yang meriah, justru menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk mentadabburi kembali makna terdalam dari tradisi peninggalan leluhur ini. 


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas