POLEMIK KARTU PRAKERJA; ANALISIS DRONE EMPRIT


Selasa, 19 Mei 2020

Ahmad Fahmi

Opini

Dibaca: 807 kali

 

Sunandar Macpal1
1.Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo

Kartu prakerja yang merupakan salah satu program unggulan Jokowi pada masa kampanye pilpres  2019.  Program  yang  awalnya  tersendat-sendat1   kini  dipercepat  proses  realisasinya  secara nasional. Percepatan implementasi ini dilakukan untuk mengatasi masalah pengangguran akibat meningkatnya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) imbas wabah virus corona (Covid-19) di Indonesia. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pemerintah menganggarkan dana APBN sebesar Rp 10 triliun, sehingga nantinya setiap pekerja yang masuk korban PHK bisa mendapatkan honor sebesar Rp 1 juta per orang atau mengalami kenaikan dari formula sebelumnya2.

Proses realisasi kartu pra-kerja ternyata mendapatkan batu sandungan, hal ini karena adanya keterlibatan salah satu platform penyeda jasa pelatihan yang CEO-nya meupakan salah satu staf khusus (stafsus) milenial Presiden Jokowi yang akhirnya memilih mundur3    Selain adanya konflik kepentingan, materi pelatihan yang diberikan oleh platform tersebut, ternyata juga bisa diakses melalui kanal You- Tube  secara  gratis4.  Sebenarnya  kartu  pra-kerja  sudah  menjadi  polemik  semenjak  masa  kampanye pilpres kemarin5. Polemik kartu pra-kerja ini kembali menjadi trend dalam jagad maya pada minggu terakhir. Dengan menggunakan drone emprit kami menganalisis percakapan di Twitter dari tanggal 6 – 19 Mei 2020 dengan menggunakan kata kunci pencarian “pra kerja; prakerja; pra-kerja dengan menambahkan filter “dan” pada kata “kartu; pelatihan; kursus; unicorn, ruang guru; baya; uang; blt”. Selama 14 hari tersebut ada lebih dari 15 ribu kali percakapan tentang kartu pra-kerja dengan puncak percakapan pada tanggal 8 mei yang mencapai 2989 kali twit. Tren ini sempat menurun namun kembali naik pada tanggal 16 mei dengan 1556 kali cuitan, sampai dengan selasa siang ini, sudah terdapat 1.275 kali twit mengenai kartu pra-kerja sebagaimana grafik di bawah ini.
 

__________________________________________________________

  1. https://www.medcom.id/ekonomi/makro/ob30v38k-realisasi-3-kartu-sakti-andalan-jokowi-di-januari-2020
  2. https://money.kompas.com/read/2020/03/25/094904326/kartu-pra-kerja-janji-kampanye-jokowi-yang-dikebut-demi-lawan-corona diakses 12 Mei 2020
  3. https://www.suara.com/news/2020/04/21/190218/skandal-ruangguru-di-kartu-prakerja-belva-mundur-dari-stafsus-jokowi
  4. https://bisnis.tempo.co/read/1334616/istana-jelaskan-keterlibatan-ruangguru-di-kartu-pra-kerja/full&view=ok
  5. https://money.kompas.com/read/2019/12/30/163600926/kartu-pra-kerja-jokowi-sudah-kontroversi-sejak- kampanye?page=all

Berdasarkan peta pesebaran, twit mengani kartu pra-kerja hampir menyeluruh pada wilayah Indonesia. Hal  ini  mengindikasikan  isu  kartu  prakerja  menjadi  isu  yang  dibicarakan  oleh  penduduk  Indonesia melalui media Twitter. Bila melihat peta SNA (Social Network Analysis) masih di dominasi oleh warna merah hal ini ini menunjukkan respon dari pengguna media twitter menyatakan sentiment negatif. Terdapat sekitar 59% atau sekitar 8.909 kali cuitan merupakan negative sentiment.

Pengguna twitter yang paling berpengaruh (Top Influencer) dalam topik ini adalah Dhandy Laksono (@Dhandy_Laksono), yang dikenal sebagai pendiri rumah produksi WatchDoc yang pernah merilis film Sexy Killers. Salah satu twit Dhandy yang paling banyak mendapat tanggapan (likes, retwets dan replies) menyebut kartu Pra-kerja sebagai “Contoh prank oleh negara: Kartu Prakerja untuk penganggur dan korban PHK, tapi yang tertolong start-up dan venture capitalnya”. Pengguna paling berpengaruh lainnya adalah Vice Id, Haris Azhar, Iwan Sumule, dan @M_Asmara1701.

Adapun anasis terhadap emosi dalam twit tentang pra-kerja menunjukkan “anger” menjadi emosi paling dominan atau sekitar 757 postingan. Hal ini menjadi wajar karena kartu pra kerja yang menghabiskan anggaran negara triliunan rupiah lebih banyak menguntungkan strat-up dan para pemiliki modal.
Masih dengan menggunakan drone emprit, kami melihat apakah ada kemungkinan penggunaan akun robot dalam menakikan trend tentang kartu pra-kerja untuk menyerang pemerintah. Ternyata dari 11.985 author yang aktif dalam twit tentang Kartu Pra-kerja, ada sekitar 8.398 akun yang terverifikasi dan bukan merupakan robot. Hal ini menunjukan bahwa kritik pada polemik kartu Pra-kerja merupakan suara yang benar-benar hadir dari kegelisahan masyarakat Indonesia yang dituangkan melalui media sosial twitter.


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas