"NEW NORMAL" PADA MEDIA SOSIAL TWITTER


Rabu, 10 Juni 2020

Ahmad Fahmi

Opini

Dibaca: 530 kali

 “NEW NORMAL” PADA MEDIA SOSIAL TWITTER

Sunandar Macpal1

1Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo

 

New Normal menjadi skenario yang digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. New Normal sebenarnya merupakan term dalam bisnis dan  ekonomi yang mengacu pada kondisi keuangan setelah krisis yang terjadi pada tahun 2007-2008, setelah resesi global 2008-2012 dan saat ini dipakai untuk pandemic Covid-19. Istilah ini muncul dari konteks untuk meningkatkan kepercayaan para ekonom dan pembuat kebijakan bahwa ekonomi industri akan kembali ke cara terbaru setelah krisis keuagan 2007-2008. Istilah ini dipopulerkan oleh Mohamed A. El-Erian yang merupakan seorang bisnisman berdarah Mesir-Amerika yang juga merupakan penasihat ekonomi utama di Allianz. Istilah ini kemudian digunakan oleh ABC news, BBC News, New York Times dimana hal ini menjadi pertanyaan pada saat debat presiden AS tahun 2014. Sementera terkait dengan Covid-19, New Normal mengacu pada perubahan kehidupan sehari-hari dari kebanyakan orang, sebagaimana dikatakan oleh dokter dan Universitas Kesehatan di Kansas. Perubahan ini termasuk membatasi kontak antar manusia seperti jabatan tangan, pelukan dan menjaga jarak. Covid-19 menjadikan banyak orang bekerja jarak jauh atau bekerja dari rumah dan terdapat kemungkinan beberapa pekerjaan bisa saja menjadi permanen dilakukan dengan jarak jauh.

Pasca pernyataan Jokowi tentang new normal pada saat pembukaan Mal di Bekasi (26/5) new normal menjadi kata yang paling banyak dicari melalui mesin pencari google (lihat gambar 1). Ternyata trend ini tidak hanya terjadi pada mesin pencari Google, akan tetapi juga menjadi tren pada media sosial twitter. Berdasarkan data dari Drone Emprit, dalam tiga hari terakhir terjadi lonjakan percakapan dengan kata New Normal pada media sosial Twitter (lihat gambar 2). Pada hari yang sama (26/5) ketika pengumunan tentang new normal disampaikan pemerintah,percakapan tentang new normal telah mencapai 14 ribu kali cuitan, hari berikutnya naik menjadi 17.260 kali, sementara pada hari kamis (28/05) terjadi percakapan yang mencapai 29 ribu kali cuitan tentang new normal. Sampai hari Jumat (29/05) tercatat 102.874 kali percakapan tentang “new normal”. 

 

_______________________

[1] https://tirto.id/apa-itu-new-normal-dan-bagaimana-penerapannya-saat-pandemi-corona-fCSg

[1] El-Erian, Mohamed A., 2010, Navigating The New Normal In Industrial Countries, Washington DC: IMF Multimedia and Services Division, p. 13

[1] https://www.bloomberg.com/news/articles/2018-07-30/el-erian-says-the-u-s-alone-has-exited-the-new-normal

[1] https://abcnews.go.com/Business/Economy/story?id=7827032&page=1#.UHNPtdBrNDQ

[1] https://www.bbc.com/news/world-us-canada-18992240

[1] https://www.bostonglobe.com/news/politics/2012/10/16/live-blog-second-debate-between-president-obama-and-mitt-romney/jZBJxCVCcUYpEA2ENcXFPP/story.html

[1] https://www.ksn.com/news/capitol-bureau/the-new-normal-after-coronavirus/

_______________________

 

Sentiman positif menjadi sentiment yang kuat yang disebarkakan oleh netizen melalui cuitan mereka tentang “new normal”. Selain itu, Ada kepercayaan yang dibangun netizen melalui media sosial twitter dimana, berdasarkan analisis terhadap emosi, “trust” menjadi emosi yang paling dominan sebanyak 889 postingan diikuti oleh “surprise” sebanyak 394 kali postingan dan “anticipation” sebanyak 234 kali. Emosi kepercayaan yang dibangun melalui media menjadi sangat wajar setelah mengalami pembatasan gerak dan aktivitas selama kurang lebih tiga bulan, dimana menurut kajian pembatasan dalam bentuk lockdown bisa mengakibatkan mental disorder, bahkan bisa menjadikan orang untuk bunuh diri. Semoga saja pilihan kebijakan “new normal” menjadi pilihan pamungkas yang dikeluarkan oleh pemerintah guna mengatasi krisis akibat pandemic Covid-19.

_______________________

[1] https://www.weforum.org/agenda/2020/04/this-is-the-psychological-side-of-the-covid-19-pandemic-that-were-ignoring/

[1] https://www.suara.com/tekno/2020/05/23/114800/dokter-klaim-lebih-banyak-pencobaan-bunuh-diri-selama-lockdown-covid-19


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas