Gorontalo – Khaerul Asfar yang merupakan Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, sukses menyelesaikan Studi Doktor. Hal tersebut ditandai dengan sidang ujian Promosi Doktor program studi Dirasah Islamiah Konsentrasi Tafsir di UIN Alauddin Makassar secara virtual melalui Zoom Meeting, Kamis (11/2/2021)

Disertasi yang mengangkat judul “Studi Antropologi Al-Qur’an : Living Qur’an Dalam Tradisi Annyorong Lopi di Bulukumba” itu berhasil dipertahankan saat di uji langsung oleh Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA. sebagai penguji eksternal. Kemudian juga diuji oleh Prof. Dr. H. M. Rusydi Khalid, MA., juga Prof. Dr. H. Kasjim Salenda, SH., M.Th.I. dan Dr. H. Baharuddin, HS., M.Ag.

“Saya sangat bersyukur bisa diuji oleh Prof. Quraish Shihab dan penguji lainnya, dan ini merupakan moment berharga bagi saya, dari awal ketika mengetahui akan diuji oleh Prof. Quraish Shihab membuat saya tegang ketika diuji oleh beliau,” ucap Khaerul.

Usai melaksanakan ujian terbuka promosi doktor dan menjawab dengan baik semua pertanyaan dari tim penguji Dr. Khaerul Asfar, Lc., M.Th.I. di usianya yang ke-34 tahun Ia dinyatakan lulus ujian Promosi Doktor dengan predikat cumlaude dan meraih IPK 4.00 yang merupakan hasil akumulatif dari seluruh mata kuliah, ujian proposal, ujian tutup, ujian hasil, ujian komprehensif dan ujian promosi doktor.

Pada  ujian tersebut, yang bertindak sebagai promotor yakni Prof. Dr. H. Achmad Abubakar, M.Ag., juga Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, M.Si. dan Dr. H. Muhammad Sadiq Sabry, M.Ag.

Khaerul menjelaskan melalui pendekatan Antropologi dan Tafsir, ia berusaha menggali peristiwa dan ritual yang terdapat pada Tradisi Annyorong Lopi. Ia juga mengatakan alasannya mengangkat judul disertasi tersebut karena ketertarikannya terhadap Tradisi Annyorong Lopi dengan perahu pinisi yang merupakan icon Indonesia dan terkenal di mancanegara. Perahu pinisi ini juga sudah melalang buana melewati 7 samudera.

“Lebih jelasnya disertasi ini dengan ilmu Living Qur’an melihat bagaimana gejala, nilai-nilai atau teks Al-Qur’an yang dibacakan dalam tradisi itu,” ucap Khaerul.

Lebih lanjut Khaerul yang merupakan putra asli Bulukumba menjelaskan Tradisi Annyorong merupakan suatu aktivitas ritual mendorong perahu pinisi ke laut yang dilakukan oleh masyarakat sebagai pembuat kapal pinisi di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tujuan dari dilaksanakannya Tradisi itu adalah sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan yang Maha Kuasa karena telah menyelesaikan karya pembuatan perahu Pinisi.

“Apabila pemesan perahu tidak mengikuti ritual yang ada, ada ucapan yang membuat sakit hati bagi Panrita Lopi (pembuat perahu), biaya yang telah disepakati tidak sesuai dengan kesepakatan awal, maka akan berakibat pada tradisi Annyorong Lopi pada saat peluncuran perahu ke laut tidak akan bisa bergerak turun ke laut, meskipun didorong ratusan orang,” ungkapanya

“Jadi itu merupakan salah satu alasan saya mengangkat judul tersebut, selain itu Tradisi Annyorong Lopi Perahu Pinisi ini juga sudah di akui UNESCO pada tanggal 7 Desember 2017 sebagai warisan budaya dunia tak benda,” tambah Khaerul.

Selain itu Khaerul mengatakan dengan gelar yang didapatkannya membuat tantangan kedepan semakin tidak mudah terlebih ia meniti karir sebagai dosen. Menurutnya, mengemban gelar doktor tidaklah mudah.

“Sebagai dosen itu harus melakukan tri dharma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Jadi saya harus fokus ketiga ini paling tidak fokus ke penelitian, harus banyak menulis, harus banyak melakukan penelitian, banyak menulis artikel dan men-submit tulisan-tulusan di jurnal,” tutupnya.

Bagikan: