GORONTALO (IAINSmart) – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo mengadakan kegiatan Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola Menuju Akreditasi Unggul Berkelanjutan pada Senin (17/11/2025).
Kegiatan ini berlangsung secara hybrid, dipusatkan di Auditorium Gedung Rektorat Lantai IV Kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo dihadiri oleh Rektor, Unsur Pimpinan, Auditor Mutu Internal, Tim Penjaminan Mutu, Gugus Penjaminan Mutu, dan Tim Borang Akreditasi Institut dan Prodi. Hadir sebagai narasumber, Dewan Eksekutif BAN-PT, Prof. Dr. H. Slamet Wahyudi, S.T., M.T.
Plt. Ketua LPM IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. Herson Anwar, M.Pd., dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal menuju akreditasi unggul. “Kegiatan hari ini merupakan kegiatan rangkaian yang dilaksanakan oleh IAIN Smart menuju akreditasi unggul,” katanya
Untuk Akreditasi Perguruan Tinggi (APT), pihaknya berharap seluruh civitas akademika dan warga kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo bisa bersinergi, agar akreditasi unggul segara terwujud. “Saya kira kita bisa bersinergi semua pada APT yang kita harapkan unggul Insyaa Allah bisa terwujud,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag., dalam arahannya, mengingatkan bahwa visinya adalah memajukan IAIN Smart.
”Mari kita optimalkan setiap langkah dan target secara serius. Kita uraikan satu persatu, sehingga semua instrument yang kita targetkan akan terwujud secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Rektor IAIN Smart.
Dalam kesempatan itu, Rektor mengulas tentang unsur tata kelola yang perlu diperhatikan. Pertama adalah transparansi. Seluruh kebijakan, regulasi, program kerja, dan kegiatan, termasuk anggaran itu bisa diketahui secara bersama oleh semua pihak.
”Supaya kita semua bisa mengontrol, memantau, dan memastikan bahwa anggaran dan semua yang ingin kita laksanakan itu bisa terwujud sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola, khususnya dalam aspek transparansi,” jelasnya.
Selanjutnya, adalah pengorganisasian. Memastikan masing-masing pejabat memahami tupoksinya, sehingga tidak tumpang tindih dan tidak kontrakdiktif. Dengan kejelasan tupoksi itu, maka semua target bisa diarahkan pada pencapaian target-target organisasi yang lebih besar.
Kemudian, yang ketiga adalah aspek partisipasi. Berpartisipasi secara aktif dalam seluruh program kerja yang didesain untuk pengembangan kelembagaan, “Saya berharap, kita semua berkenan secara sadar dan tulus untuk mengembangkan lembaga,” harapnya.
Sementara yang keempat adalah aspek responbilitas, yang berarti seluruh civitas akademika atau warga kampus berkomitmen untuk mewujudkan, mengimplementasikan seluruh kebijakan, regulasi dan program kerja yang akan dicapai.
Dan yang terakhir, instrumen kepemimpinan. Berusaha menciptakan suasana kerja yang kondusif dan mampu memotivasi secara keseluruhan, sehingga semua bisa bekerja secara nyaman sesuai dengan tupoksi masing-masing. (Hms/YN)